Search
REFLEKSI AWAL TAHUN 2008: Merajut Kebersamaan dalam Perbedaan untuk Perdamaian Dunia Print E-mail
Wednesday, 02 January 2008
Memasuki tahun 2008, bangsa Indonesia khususnya dan dunia internasional umumnya masih dihadapkan pada beberapa isu krusial mengenai konflik, kekerasan, pelanggaran HAM, kemiskinan, kelaparan, kesehatan serta ke[pe]rusakan lingkungan. Isu-isu tersebut telah berdampak cukup luas bagi kehidupan bangsa-bangsa karena melibatkan aspek-aspek yang bersentuhan langsung dengan keseharian, yaitu: ekonomi, politik (termasuk di dalamnya hubungan internasional), sosial, budaya (termasuk di dalamnya agama, etnis, suku dan ras), serta human security. Dalam konteks global, beberapa peristiwa yang berkenaan dengan konflik dan kekerasan politik seperti konflik Israel-Palestina, kekerasan politik pemerintah Myanmar terhadap aksi damai pimpinan para Bikshu, kekerasan politik di Sudan, konflik di Filipina Selatan dan Thailand Selatan,  dan terakhir terbunuhnya mantan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto, merupakan wajah suram dunia tahun 2007.

Tahun 2007 masih tetap diwarnai oleh aksi-aksi terorisme, yang semakin mempersulit proses menghilangkan salah pengertian antara Dunia Islam dan Barat. Pandangan-pandangan bias tentang Islam yang kerap ditemui dalam media internasional, kerap pula menjadi pemicu ketegangan antar peradaban.

Dunia internasional juga didera oleh persoalan-persoalan kemanusiaan seperti kemiskinan, kelaparan, kesehatan, dan ke[pe]rusakan lingkungan. Lebih dari 1/5 penduduk di Negara Dunia Ketiga mengalami kemiskinan dan kelaparan. Begitu juga dengan tingkat kematian ibu dan bayi yang terus meningkat hingga 40 per 100 ribu kelahiran pada tahun 2004-2007, akibat tidak terurusnya kesejahteraan dan kualitas kesehatan mereka oleh negara. Persoalan-persoalan struktural ini semakin memburuk akibat kerusakan lingkungan karena pembalakan hutan secara liar. Temperatur bumi menjadi tidak stabil yang bermuara pada semakin nyatanya ancaman yang berasal dari perubahan iklim (climate change).

Dalam konteks Indonesia, hubungan antar etnik, suku dan agama masih diwarnai oleh berbagai persoalan. Misalnya, konflik suku di Papua, dan masih belum kondusifnya hubungan keagamaan di Poso dan Maluku, merupakan pekerjaan rumah bangsa Indonesia yang memerlukan penyelesaian yang cermat, tepat dan serius.

Di samping itu, kecurigaan antar kelompok agama, khususnya antara Islam dan Kristen, masih memerlukan upaya bersama yang lebih terpadu untuk mengatasinya. Aksi kekerasan yang dilancarkan oleh sekelompok umat beragama terhadap kelompok lain, misalnya dalam kasus Ahmadiyah, yang berbentuk perusakan rumah ibadah dan ancaman-ancaman kekerasan merupakan akibat dari masih kuatnya kultur kekerasan dan lemahnya penegakan hukum di negeri ini.

Dalam konteks ini, Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) memberikan penilaian sebagai bentuk Refleksi Awal Tahun 2008. Penilaian tersebut dilandaskan pada keyakinan CDCC terhadap nilai positif dan bergunanya setiap upaya dialog yang adil diiringi kerjasama yang konkret antar peradaban. Penilaian tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, hubungan antar peradaban perlu terus-menerus didorong dalam bingkai dialog dan kerjasama antar peradaban. Dalam hal ini, setiap peradaban harus secara terbuka dan adil siap mencurahkan perhatian terhadap  upaya yang bermanfaat bagi terciptanya dunia yang adil dan damai. CDCC sangat mengapresiasi upaya negara-negara yang hirau terhadap prakarsa Aliansi Peradaban yang digagas oleh PBB dan diprakarsai oleh Selandia Baru, Spanyol, dan Turki, sebab program-program dan rekomendasi aksinya merupakan langkah positif bagi gagasan dan aksi alternatif sebagai antitesa terhadap wacana clash of civilisations. Dalam konteks ini pula, CDCC mendorong media agar mampu menyajikan pemberitaan yang seimbang dan objektif bagi upaya-upaya makin kondusifnya dialog dan kerjasama peradaban.

Kedua, CDCC percaya bahwa konflik dan kekerasan politik yang seringkali dianggap bersumber dari faktor-faktor keagamaan, sesungguhnya tidaklah bermotif kepentingan agama. Sebab, setiap agama sama sekali tidak mengajarkan aksi kekerasan dan konflik sebagai cara untuk membangun hubungan antar agama dan peradaban. Setiap agama juga sama sekali tidak pernah mengajarkan aksi kekerasan dalam upaya menyikapi perbedaan, baik perbedaan agama, madzhab (sekte), maupun pemikiran. CDCC lebih berkeyakinan bahwa konflik dan kekerasan politik (seperti perbuatan yang dicontohkan oleh para pelaku tindak pidana terorisme) didorong oleh motif-motif ekonomi-politik.

Ketiga, CDCC oleh karena itu mengecam dan sama sekali tidak menyetujui upaya-upaya menyelesaikan masalah hubungan antar peradaban, agama dan etnik melalui aksi-aksi kekerasan. Sebab, setiap aksi kekerasan tersebut tidak akan pernah menyentuh akar masalah dalam rangka menyelesaikan konflik antar peradaban, agama dan etnik. Aksi kekerasan juga sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan kemanusiaan.

Keempat, CDCC menyetujui dan ikut mendorong terciptanya perdamaian di Timur-Tengah, khususnya Palestina, sebagaimana harapan Dunia Internasional. Penyelesaian konflik di kawasan tersebut membutuhkan upaya penciptaan perdamaian serius terutama di tingkat lokal dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan secara adil dan transparan. Sangat penting juga mendorong proses perdamaian di Palestina dengan perspektif kemanusiaan, mengingat bukanlah merupakan kepentingan agama dan kelompok tertentu saja, melainkan kepentingan kemanusiaan. Dalam hal penyelesaian masalah kekerasan di Irak, CDCC mendesakkan penarikan Pasukan Sekutu dari Irak, guna mengakhiri semakin meluasnya kekerasan yang dapat menimbulkan penderitaan rakyat Irak secara berkepanjangan.

Kelima, CDCC mendorong upaya dialog dan kerjasama antar peradaban yang lebih konkret. Dialog dan kerjasama antar peradaban harus memasuki ruang lingkup isu-isu ekonomi, pendidikan, penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, peningkatan kualitas kesehatan dan pencegahan perusakan lingkungan. CDCC menghargai upaya negara-negara yang memprakarsai MDGs (Millenium Development Goals) yang mencoba merealisasikan tujuan 8 pilar (menghapuskan kemiskinan; pendidikan dasar untuk semua; kesetaraan dan keadilan gender serta pemberdayaan perempuan; menurunkan angka kematian bayi; memperbaiki kesehatan ibu; mencegah HIV-AIDS, malaria dan penyakit lainnya; lingkungan berkelanjutan dan; membangun jaringan kemitraan global) yang hendak dicapai sebagai bentuk concern terhadap isu-isu kemanusiaan dengan target 2015. Mengingat kasus kemiskinan di Indonesia cukup meluas, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu menetapkan kebijakan pengentasan kemiskinan sebagai kebijakan utama.

Keenam, dalam konteks isu ke[pe]rusakan lingkungan, CDCC mendorong pewujudan keadilan dalam setiap upaya memelihara dan menyelesaikan masalah climate change and global warming, seraya meminta semua Negara bertanggung-jawab dan memiliki kemauan baik untuk menjaga lingkungan dan bumi. Dalam hal ini, CDCC mengapresiasi keberhasilan Pemerintah Republik Indonesia yang telah berhasil menyelenggarakan International Conference tentang Climate Change pada Desember 2007 dengan cukup memuaskan.

Ketujuh, dalam konteks politik di tanah air, CDCC menyerukan semua pihak untuk bekerja keras membangun kultur demokrasi serta menjaga nilai-nilai demokrasi agar tidak dicederai oleh berbagai tindakan dan perilaku politik yang tidak mengindahkan moral keagamaan, etika politik, dan kepentingan bangsa yang lebih luas. Politik hendaknya dijadikan alat untuk mencapai tujuan bersama, bukan sebagai alat untuk memecah di antara sesama. CDCC juga mendorong demokratisasi di Indonesia secara lebih substantive: transparansi, anti korupsi dan penguatan nilai-nilai kebangsaan demi terciptanya good governance dan clean government.

Semoga tahun 2008 ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua.