|
Obama Tiga Kali Sebut "Indonesia" |
|
Saturday, 06 June 2009 |
|
Tepuk tangan ditingkahi gempita sorak-sorai berkali-kali membahana ketika puluhan tokoh masyarakat, pemimpin agama, politisi, hingga jurnalis Tanah Air menyimak pidato kepada dunia Muslim yang disampaikan Presiden Barack Obama dari Kairo, Mesir, pukul 13.10 waktu setempat, Kamis (4/6), atau pukul 17.10 WIB. Betapa tidak ? Obama memulai pidatonya dengan mengucap salam perdamaian dari warga Muslim AS, “Assalamu’alaikum”. Sebanyak tiga kali pula kata “Indonesia” disebutkan Obama sepanjang pidatonya. Pujian juga disampaikan Obama kepada Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tempat ia menghabiskan sebagian masa kecilnya. Retorika Obama sedemikian memikat. Tidak heran, tatapan mata mereka yang hadir nyaris tak sedikitpun beranjak dari layar berukuran raksasa yang menayangkan secara langsung pidato Obama selama sekitar satu jam yang disebarluaskan oleh CNN. “Ia (Obama) adalah seseorang yang datang entah dari mana untuk mempersatukan rakyat AS. Ia punya popularitas luar biasa besar di AS. Ia berdarah Kenya dan Kansas, serta punya pengalaman masa kecil di Indonesia. Ia paham, ia sangat respek terhadap Islam. Maka ia menyebutkan kata Indonesia sebanyak tiga kali dalam pidatonya,” ungkap Stanley Harsha, staf Bidang Politik Kedubes AS, dalam diskusi di sela-sela acara “Nonton Bersama Pidato Presiden Barack Obama kepada Dunia Islam” yang diselenggarakan Kedubes AS bekerja sama dengan Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), di Menteng, Jakarta, kemarin petang. “Saya penganut Kristiani, tetapi ayah saya berasal dari keluarga asal Kenya yang mencakup sejumlah generasi penganut Muslim. Sewaktu kecil, saya tinggal beberapa tahun di Indonesia dan mendengar lantunan azan pada waktu Subuh dan Maghrib,” ungkap Obama di bagian pembuka pidatonya. Kata “Indonesia” diucapkan Obama untuk kedua kalinya ketika berbicara tentang kebebasan beragama. “Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini,” ungkap Obama, yang sontak disambut tepuk tangan meriah dan sorak-sorak mereka yang hadir dalam acara nonton bareng di CDCC. Hak Perempuan Dan, untuk ketiga kalinya, kata “Indonesia” disampaikan Obama ketika ia berbicara tentang isu persamaan hak perempuan. Bagi Obama, isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata merupakan isu untuk Islam. “Di Turki, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin,” tegas Obama. Sementara perjuangan bagi persamaan hak perempuan faktanya hingga kini masih terus merupakan aspek dalam kehidupan di Amerika, dan negara-negara di seluruh dunia. Itulah sebabnya, kata Obama, Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas penduduknya Muslim untuk mendukung perluasan pemberantasan buta huruf bagi kaum perempuan. Selain itu, bantuan juga akan diberikan bagi para perempuan muda untuk memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman usaha kecil yang akan membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka. Secara keseluruhan, pujian disampaikan oleh para pembicara diskusi dan peserta acara nonton bareng atas pidato Obama di Kairo. Tidak sekadar mengutip tradisi-tradisi profetik dari Al Quran, Obama dalam pidatonya juga membuka pintu untuk mendiskusikan isu-isu perdamaian, persahabatan dan kerja sama yang disuarakan oleh Al Quran. “Saya pikir, yang lebih penting dari keseluruhan gagasan Obama tentang resolusi konkret di Timur Tengah, adalah ide pelibatan yang lebih bersifat meluas (broader engagement) antara AS dan dunia Muslim,” ungkap Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin. Dalam pelibatan itu, kekuatan militer (hard power) diputuskan oleh pemerintahan Obama tidak lagi akan digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia Muslim. “Resolusi problem di dunia Muslim kini lebih diletakkan pada penggunaan “kekuatan lembut” (soft power) dan “kekuatan cerdas” (smart power) yang sebelumnya disampaikan oleh Menlu AS Hillary Rodham Clinton sewaktu berkunjung ke Jakarta, serta pada kekuatan cinta kasih (love power),” kata Din tentang pidato Obama. Terlepas komitmen dibukanya “babak baru” hubungan AS dan dunia Muslim, namun para pembicara secara keseluruhan sepakat, penilaian tidak bisa dilakukan sebatas mengacu pada apa yang disampaikan dalam pidato Obama. “Harus ada tindakan-tindakan konkret,” kata Din. Dunia Muslim tidak bisa dimungkiri sangat mendukung Obama. Banyak simpati dicurahkan masyarakat dunia Muslim bagi Presiden AS itu. Tetapi, bagi dunia Muslim, niat memperbaiki hubungan AS dengan dunia Muslim tidak ada artinya tanpa disertai tindakan-tindakan nyata.[Suara Pembaruan] |
|
|
DPR: Pidato Obama Hanya Sekadar Wacana |
|
Friday, 05 June 2009 |
|
JAKARTA - Anggota Komisi I DPR Abdillah Toha menilai pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Kairo, Mesir, hanya sebatas wacana dan tidak ada wujud realisasinya, sehingga lebih tepat diperuntukan bagi umat Muslim Arab dan bukan untuk Indonesia. "Jangan terlalu berharap banyak, pidato amat terlalu tinggi dan tidak sesuai dengan kondisi dari apa yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Semua isi pidatonya lebih cocok di negara Timur Tengah, bukan Indonesia. Namun pidatonya mendapat simpati dari semua masyarakat dunia khususnya Islam, karena memang sosok Obama disukai oleh semua orang," ujarnya usai menghadiri nonton bareng pidato Obama di kediaman Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Jalan Kemiri Nomor 24, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2009). Menurut dia, pidato yang disampaikan Obama hanya sebatas teori dan tidak terihat perwujudan konkretnya, sehingga belum dapat memberikan penyelesaian atas konflik di sejumlah negara Timur Tengah, misalnya konflik Palestina-Israel. Karena itu Abdillah memprediksikan masa waktu setahun dirasa tidak akan terpenuhi dalam pembuktian janji Presiden asal Kenya tersebut. "Itu akan kita lihat saat ini, tapi kalau dalam satu tahun apakah ada realisasinya yaitu sesuatu yang baru bagi umat muslim. Tapi setahun ini tidak mungkin, do not expect too much, need to action (Obama) tentunya harus ada keberanian besar, misalnya menarik pasukan AS di daerah konflik dan mampu bersikap dari adanya tindakan kekuasan melobi Yahudi yang besar," pungkasnya.[] Sumber: news.okezone.com |
|
|
Obama Tidak Melupakan Indonesia |
|
Friday, 05 June 2009 |
|
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama tidak melupakan Indonesia, terbukti dalam pidatonya untuk Komunitas Muslim Global di Universitas Kairo, Obama memberikan perhatian khusus. " Obama yang pernah tinggal di Indonesia, juga memberikan perhatian tentang perkembangan demokrasi dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di negara ini," kata Sekretaris pertama bidang politik Kedutaan Besar AS untuk Indonesia Stan Harsha pada Acara Apresiasi Pidato Obama di Kantor Pusat Kerja sama dan Dialog antar-Peradaban (Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations/CDCC), Jakarta, Kamis. Harsha mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam telah memberikan nuansa pengalaman hidup tersendiri bagi Obama. Dalam perkembangannya, Indonesia dinilai sudah semakin maju baik dalam hal penegakan demokrasi maupun dalam upaya penegakan HAM. Sementara perhatian presiden pada negara-negara Islam di dunia, lanjutnya, dalam pidato Obama disebutkan akan berjuang menghapus stereotip negatif terhadap orang Islam, khususnya di AS dan dunia barat. Mengenai penegakan demokrasi dan penjaminan kebebasan beragama di AS, juga dipaparkan Obama bahwa saat ini sudah ada sekitar tujuh juta warga AS yang memeluk Agama Islam dan terdapat 200 buah masjid. Masing-masing negara bagian sudah memiliki masjid dan setiap tahunnya ribuan warga muslim AS yang berhaji ke Saudi Arabia. "Kebebasan di AS sangat dihargai, karena itu penganut Agama Islam dianggap telah menjadi bagian dari masyarakat AS," kata Harsha mengutip pidato Obama. Masyarakat muslim di AS juga dinilai telah memberikan konstribusi di sektor ekonomi, terbukti banyak warga muslim AS yang menjadi pengusaha sukses. Begitu pula di sektor pendidikan, sehingga fenomena ini menunjukkan bahwa pemerintah AS memberikan ruang yang sama untuk berkiprah di segala bidang. Berkaitan dengan hal tersebut, Obama memberikan jaminan bahwa ke depan masyarakat muslim di dunia akan senantiasa dilindungi. AS juga akan membantu mendorong perkembangan ekonomi negara-negara Islam melalui bantuan teknologi.(*) |
|
|
Pakar: AS Serius Menjalin Hubungan dengan Dunia Islam |
|
Friday, 05 June 2009 |
|
Jakarta, 4/6 (Roll News) - Direktur Eksekutif Pusat Dialog dan Kerja sama Antar Peradaban (CDCC), Abdul Mu`ti, di Jakarta, Kamis mengatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama serius ingin menjalin hubungan dengan Dunia Islam. "Presiden Obama tidak beretorika tetapi ingin membawa perubahan yang berarti, dengan meningkatkan hubungan Amerika dengan Dunia Islam. Karena hubungan itu juga akan mempengaruhi dunia," kata Mu`ti ketika dimintai tanggapannya atas pidato Presiden Obama di Universitas Kairo, Mesir. Dia mengatakan Obama dalam pidatonya memberikan pengakuan dan juga tidak menegasikan hubungan antara Muslim dengan AS, yang menciptakan kesalahpahaman dan ketegangan akibat sikap negara itu terhadap Iran, Irak, Afganistan, Palestina. "Itu merupakan pengakuan yang tulus dari seorang presiden Amerika untuk memulai babak baru,` kata Mu`ti, yang masih sempat menyaksikan pidato Obama setelah kembali dari mengikuti seminar di Kuala Lumpur. Dia mengatakan, Presiden Obama juga menyatakan bahwa "kita tidak boleh terperangkap pada masa lalu seperti konflik dan perselihan. Semuanya itu hanya sebagai catatan sejarah." Obama juga menunjukkan kesamaaan nilai-nilai yang terkandung dalam tiga agama masing-masing Islam, Kristen dan Yahudi. Dalam pidatonya ia mengutip terjemahan tiga ayat dalam Al Quran serta peristiwa Isra Mi`raj. Menurut dia, Obama juga menawarkan kerjasama antarnegara untuk mencapai kemakmuran dan keadilan karena AS telah banyak kehilangan tentaranya di medan tempur. Terkait dengan penyebutan nama Indonesia beberapa kali, Mu`ti mengatakan pertama soal pengalaman pribadinya yang mempunyai ayah tiri orang Indonesia serta masa kanak-kanaknya di Indonesia. Kedua, posisi strategis Republik Indonesia yang berpenduduk terbesar keempat di dunia dan memiliki reputasi baik dalam bidang demokrasi, wanita, toleransi dan ketiga hubungan kedua negara tersebut untuk menciptakan kemakmuran bersama, Direktur Eksekutif Indonesian Institute of Strategic Studies (IISS), Begi Hersutanto mengatakan, penyebutan nama Indonesia dalam pidato Obama memberi peluang bagi Indonesia untuk menjalin kemitraan strategis lebih mendalam dengan Amerika. "Tetapi di sisi lain jangan sampai pandangan Indonesia terpengaruh terlalu banyak, meskipun Obama pernah berada di Indonesia dan punya hubungan emosional," ujarnya. Sebab, katanya, Obama sekarang ini adalah Presiden Amerika dan tentunya wajib untuk membela kepentingan negara tersebut.[] |
|
|
Malam Apresiasi Puisi di CDCC: “Ayat-ayat Cinta” Diterjemahkan ke Bahasa Rusia |
|
Friday, 05 June 2009 |
|
Jakarta - Veronika Novoseltseva diminta Din Syamsudin secara spontan menerjemahkan lagu “Ayat-ayat Cinta” di pembukaan acara “Puisi Rusia: Dekat di Mata, Dekat di Hati” di Centre for Dialogue and Corporation among Civilization (CDCC), Jl Kemiri 24 Menteng, Jakarta, Selasa (3/6) malam. Tepuk tangan diberikan untuk spontanitas Veronika dalam acara apresiasi puisi dan lagu Rusia yang dihadiri Duta Besar Rusia, itu. Veronika menerjemahkan karya penyair Rusia terkenal, antara lain Mikhail Matusovsky, Sergey Esenin, Musa Djalil, Robert Rozhdestvensky, Lev Oshanin, David Samoilov, Vladimir Visotsky, dan Igor Saruhanov. Selain Veronika, para pembaca puisi Rusia–disusul terjemahannya dalam Bahasa Indonesia— bergantian muncul di tengah forum. Bobro memetik gitar akustik, mengiringi Veronika. Selain itu, “Dirgahayu Matahari” karya Lev Oshanin dinyanyikan mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sastra Rusia Universitas Padjadjaran, Ariel. Bobro kemudian mengiringi juga lantunan lagu Veronika, yang menggubah syair “Mengejar si Pintar yang Cantik” karya Vladimir Visotsky. “Karya Vladimir seperti karya Iwan Fals,” ujar Veronika. Dodi Akhmad Fauzi, yang kebagian tugas membacakan puisi terjemahannya, mengatakan, “Sebenarnya lebih mirip karya Chairil Anwar.” Dihadiri Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov dan stafnya, momen pembacaan puisi sekaligus syair yang diiringi gitar akustik itu memang sangat interaktif. Apalagi, ruangan Gedung CDCC jaraknya memang dekat dengan penonton yang malam itu didominasi anak muda. Panggung juga tak begitu tinggi membuat penonton dapat melihat jelas dan bereaksi atas pertunjukan yang digelar. Istri Dubes Ivanov, Liudmila Ivanova, kemudian kebagian session menjelaskan karya-karya lukisan yang digelar juga di depan Gedung CDCC pada malam itu. “Lukisan Rusia sudah termashyur sejak abad 17. Kebudayaan Rusia pentingkan wajah orang. Tradisi lukisan Rusia adalah realis,” ujarnya, menunjuk tiap lukisan dari depan hingga ke belakang ruangan. Puisi Religius Menurut Din, seperti ungkapan tak kenal maka tak sayang, acara apresiasi puisi Rusia ini menjadi media untuk mengetahui secara dekat kebudayaan dan keberadaan masyarakat Rusia. Di momen itu, Din kemudian membacakan puisi spontan yang singkat, “Rusia... oh Rusia...” ujarnya. Din juga mengapresiasi karya sajak Rusia pada ma-lam itu. Sekilas, puisi-puisi yang ditampilkan, memperlihatkan dimensi religius. Dia menyebut karya Sergey Ese-nin, “Saya Cuma Orang Sam-bil Lalu”, yang dalam bahasa Indonesianya, kira-kira diterjemahkan menjadi: Di tengah-tengah daratan liar,/ La-dang pasir asin dan putih,/Di tengah dosa-dosa dunia,/ Kerinduan dan rasa sedih. Kandungan spiritualitas juga nampak pada puisi Sergey yang lain, yang bila diterjemahkan menjadi, Sahabatku, kamu mau pergi,/ Hatiku bermuram dan sepi,/ Kupercaya, di alam semesta/ Kita akan bertemu lagi./Sahabatku, kita berpamitan,/Ikut saja roh dan firasat.../HIdup malang bangsa manusia/Tetap bergandeng dengan wafat. “Tampaknya yang dipilih dan diangkat tak hanya sajak-sajak religius, karena ada juga sajak-sajak kemanusiaan seperti lagu Dirgahayu karya Lev Oshanin,” papar Din. Kepada Din, Dubes Ivanov mengatakan momen ini sangat berharga, terutama dalam rangka dialog peradaban dan kebudayaan yang terus dibangun. Dubes mengaku cukup kenal Din sebagai tokoh yang dikenal di Rusia sebagai tokoh yang intens menjalin hubungan antarbangsa, agama, dan budaya. Untuk acara apresiasi ini, Dubes mengaku ingin menindaklanjuti acara yang cukup apresiatif itu agar lebih mengenal kebudayaan kedua negara. “Selain dialog budaya, acara ini perlu karena banyak anak muda yang dapat dilibatkan, mereka dapat mengetahui bagaimana kebudayaan, khususnya kesusasteraan di Rusia,” ujarnya. Sumber: Sinar Harapan |
|
|